Senin, 21 Oktober 2013

HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan tidak hanya merupakan kewajiban pemerintah, sekolah, dan guru saja, tapi juga merupakan tanggung jawab keluarga dan masayarakat. Masyarakat diharapkan peransertanya dalam melaksanakan dan menyelenggarakan pendidikan, terutama dalam mendidik moral, norma, dan etika yang sesuai dengan agam dan kesepakatan masyarakat. Siswa belajar disekolah dalam waktu terbatas, sedangkan waktu terbanyak ada di rumah dan masyarakat.
UU No. 20/ 2003 tentang Sisdiknas. Pada Bab XV Pasal 54 dinyatakan bahwa: (1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. (2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber pelaksana dan pengguna hasil pendidikan. (3) ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Masyarakat merupakan komponen utama dalam terselenggaranya proses pendidikan. Kontribusi masyarakat di lingkungan sekolah sangat perlu dioptimalkan sebagai upaya pemberdayaan dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah dengan paradigma pendidikan yang baru. Masyarakat dapat memberikan sumbangsihnya kepada sekolah dengan memberikan masukan-masukan terutama dalam penyusunan program-program sekolah.
Jadi, pendidikan tidak akan terselenggara secara efektif dan efesien jika belum ada peran serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik.
Diharapkan masyarakat dapat memiliki pemahaman bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama segenap pihak, termasuk masyarakat. 
Berdasarkan kajian hubungan Sekolah dengan Masyarakat diatas, makalah ini dibatasi pada kajian bagaimana Peran Hubungan Sekolah dengan Masyarakat.

 

B.     Rumusan Masalah
Adapun dari permasalahan diatas didapat rumusan masalah yaitu;
1.      Apakah hubungan sekolah dengan masyarakat?
2.      Bagaimana Peran serta Masyarakat?
3.      Bagaimana Peran serta orang tua?
4.      Bagaimana Peran serta Komite sekolah?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adapun adalah untuk mengetahui:
1.      Hubungan sekolah dengan masyarakat di sekolah dasar
2.      Peran serta masyarakat di Sekolah dasar.
3.      Peran serta orang tua di sekolah dasar
4.      Peran serta Komite sekolah

D.    Manfaat Penulisan
1.      Manfaat teoritis
Hasil makalah ini dapat dipergunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi sekolah
Makalah ini dapat dipergunakan sebagai bahan acuan dalam membina hubungan sekolah dan masyaraakat/ warga sekolah.
b.      Bagi Masyarakat
Makalah ini menambah pengetahuan masyarakat tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan di sekolah.
c.       Bagi mahasiswa
Makalah ini dapat dipergunakan sebagai bahan referensi bagi seluruh mahasiswa bidang pendidikan
d.      Bagi penulis
Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan penambah wawasan tentang manfaat hubungan sekolah dan masyarakat. Makalah ini juga dapat dijadikan bahan masukan bagi penulisan makalah selanjutnya membuat makalah mengenai hubungan sekolah dan masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hubungan sekolah dengan Masyarakat
1.      Pengertian
Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi, dan simpati dari masyarakat, serta mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dengan masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan tersebut adalah untuk mensuksekan program-program sekolah yang bersangkutan sehingga sekolah tersebut bisa tetap eksis. Seperti dikutip dari International Public Relation Association dalam Pengelolaan Pendidikan, yaitu: “hubungan masyarakat dengan sekolah merupakan komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik secara timbal balik baik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerjasama serta pemenuhan kepentingan bersama”.
Menurut J.C. Siedel “Public reation is the continuting proces by which management edeavors to obtain the goodwill and understanding of its costumer, its emplyees and the public at large, inwardly througt self analysis and corretcion, outwardly thougt all means of expression.” (Suryobroto, 2004: 156).
Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa public relation (Humas) adalah proses yang berjalan terus menerus, dimana manajemen berusaha untuk memperoleh good will dan pengertian dari para pegawai, langganan, dan masyarakat luas. Ke dalam melalui analisa, dan keluar melalui jalan menggunakan pernyataan. Jadi bahwa dalam pelaksanaan hubungan masyarakat merupakan suatu proses yang terencana yang berkesinambungan guna memperoleh itikad baik dari semua pihak, baik kepada pihak internal (Kepala sekolah, guru, staf) maupun kepada pihak eksternal (orang tua, masyarakat).
W. Emerson Reck (dalam Burlingame, Dwight. 1990: 16) “Public relations is the continued process of keying policies, services and actions to be the best of interest of those individual and groups whose confidence and goodwill an individual or institutions covets and secondly, it’s the interpretation of these policies, services and actions to assure complete understanding and appreciation”.
Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa public relation (Humas) adalah pelaksanaan kebijaksanaaan, pelayanan dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya.
Frank Jeffkins (2002.10). public relation (Humas) adalah sesuatu yang terdiri dari semua bentuk komunikasi berencana baik ke dalam maupun ke luar antara organisasi dengan publiknya untuk mencapai tujuan khusus, yakni pengertian bersama.
Mulyasa (2007: 50), menyatakan hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain untuk memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak, memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat, mengarahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.
Moore, (2004: 6) Filsafat sosial dan manajemen yang dinyatakan dalam kebijaksanaan beserta pelaksaannya yang melalui interpretasi yang peka mengenai peristiwa-peristiwa berdasarkan pada komunikasi dua arah dengan publiknya, berusaha memperoleh saling pengertian dan itikad baik.
Sagala, S., (2008: 191) menyatakan “peran serta masyarakat mendukung manajemen sekolah adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, bahkan menjadi keharusan, dimana agar peran serta masyarakat menjadi suatu sistem yang terorganisasi”.
Menurut Soetopo dan Soemanto (dalam buku manajemen Pendidikan karangan Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas pendidikan Indonesia: 2008), Hubungan sekolah dan Masyarakat diartikan sebagai suatu proses komunikasi dengan tujuan meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktik pendidikan serta berupaya dalam memperbaiki sekolah.
Di El Savador partisipasi masyarakat dalam MBS menurut Umanzor dkk. (1997) memiliki tiga tujuan utama. (1) meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat termiskin di daerah pedesaan, (2) mendorong partisipasi anggota masyarakat lokal terhadap pendidikan anak-anak mereka, (3) meningkatkan kualitas pendidikan prasekolah dan pendidikan dasar.
2.      Prinsip–prinsip hubungan sekolah dan masyarakat
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dan masyarakat,antara lain:
a.       Integrity
Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dan masyarakat harus terpadu. Artinya informasi yang disampaikan antar keduanya harus informasi yang terpadu baik mengenai masalah akademik maupun non akademik. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayan antar keduanya.
b.      Continuity
Prinsip ini menjelaskan bahwa hubungan ini harus dilakukan secara terus menerus, hal ini dilakukan agar masyarakat mengetahui perkembangan sekolah.
c.       Simplicity
Prinsip menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dan masayarakat ini dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat sesuai dengan kondisi dan karakteristik masyarakat.
d.      Coverage
Kegiatan pemberian informasi secara menyeluruh dan mencakup semua asfek, faktor atau subtansi yang perlu disampaikan dan perlu diketahui masyarakat.
e.       Constructiveness
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang membangun pemahaman/pengetahuan masyarakat terhadap program pengembangan sekolah.
f.        Adaptability
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat setempat.
3.      Teknik dan bentuk hubungan sekolah dan masyarakat
Pawlas (2005: 2) the nation school public relations association (NSPRA) defines the efforts school must make as a planned, systematic, two-way process of communication between a school and its internal and external community through the use of interpersonal communication and mass media.
Hubungan sekoalah dengan masyarakat di definisikan sekolah harus membuat upaya sebagai, proses terencana, sistematis, dua-cara komunikasi antara sekolah dan masyarakat internal dan eksternal melalui penggunaan komunikasi interpersonal dan media massa.
Secara umum hubungan sekolah dan masyarakat ini dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun dalam pelaksanaanya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk diantaranya:
a.       Siaran radio
Siaran radio sebagai sarana penyebaran informasi memiliki keunggulan dalam luasnya wilayah penyebaran informasi yang dapat dijangkau dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian dalam waktu yang singkat dapat disebarkan informasi kesemua pelosok perdesaan. sebagai media penyebaran informasi khususnya yang berkaitan dengan program pendidikan.melaui bentuk seperti ini dapat dilakukan Dialog interaktif dengan menampilkan pejabat dinas pendidikan setempat, kepala sekolah,tokoh masyarakat guna membahas program sekolah dan pengembangannya.
b.      Perlombaan-perlombaan
Perlombaan–perlombaan ini merupakan kegiatan yang cukup menarik. Hal ini akan mampu membuat dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu dengan adanya acara ini, masyarakat akan mengetahui prestasi sekolah dalam mencetak siswa.
c.       Pameran
Dalam menyelenggarakan acara pameran ini memerlukan kerja sma antara sekolah dan masyarakat.dengan adanya kegiatan ini hubungan keduanya akan terjalin lebih baik sehingga perkembangan sekolahpun lebih baik.
d.      Dialog
Dialog ini dapat dilakukan dengan mengadakan rapat secara terus menerus untuk mambahas perkembangan sekolah dan membetuk program- progarmnya.
e.       Kunjungan kesekolah (School visitation)
Teknik ini memberi kesempatan kepada wali murid untuk melihat prestasi siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
f.       Kunjungan ke wali murid
Kunjungan ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dirumah
g.      Layanan telefon
Layanan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada wali murid mengenai siswa begitu juga sebaliknya.
h.    Kotak saran
    Melui kotak ini sekolah dapat mengetahi saran – saran apa saja yang diberikan masyarakat kepada sekolah guna mengembangkan sekolah
i.       Kartu penghubung
Kartu ini diberikan kepada setiap siswa yang nantinya diisi oleh guru dan wali murid yang bersangkutan. Sehingga wali murid dapat mengetahui perkembangan anaknya dan sekolah.
4.      Tujuan dan Manfaat hubungan sekolah dan masyarakat
a.       Hubungan sekolah dan masyarakat ini memiliki tujuan, antara lain:
(1)   Mengenalkan pentingnya sekolah bagi masyarakat.
(2)   Mendapatkan dukungan dan bantuan financial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah.
(3)   Memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanan program sekolah.
(4)   Memperkaya atau memperluas program sekolah sesuai dengan perkembangan kebutuhan masayarakat.
b.      Hubungan sekolah dengan masyarakat yang berjalan dengan baik akan memberi manfaat pada kedua pihak. Berikut manfaat yang diperoleh:
(1)   Bagi masyarakat
·         Masyarakat mengetahui inovasi-inovasi yang dilakukan oleh sekolah.
·         Masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan pendidikan dapat mengajukan aspirasinya terhadap sekolah.
·         Masyarakat dapat memberikan kritikan dan saran yang berguna untuk sekolah apabila terdapat program, keputusan atau tindakan sekolah yang tidak sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat .
(2)   Bagi sekolah
·         Sekolah dapat termotivasi untuk terus melakukan perbaikan baik dari segi tenaga pendidik maupun dari fasilitas pedidikan karena sekolah mendapat penilaian dan kontrol langsung dari masyarakat.
·         Sekolah dapat menyampaikan kesulitan-kesulitan yang dialami sekolah yang memerlukan partisipasi masyarakat untuk menyelesaikannya.
·         Sekolah dapat memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai konsep-konsep pendidikan yang perlu masyarakat pahami agar tidak terjadi kesalahpahaman konsep antara sekolah dan masyarakat.
·         Sekolah dapat memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar bagi peserta didik.
5.      Fungsi Humas
a.       Fungsi Konstruktif
Dianalogikan sebagai “penata jalan “. Jadi, humas merupakan “garda” terdepan yang dibelakangnya terdiri dari “rombongan”. Peranan humas dalam hal ini mempersiapkan mental publik untuk menerima kebijakan organisasi untuk mengetahui kepentingan publik, mengevaluasi perilaku publik maupun organisasi untuk direkomendasikan kepada manajemen,menyiapkan prakondisi untuk mencapai saling pengertian, percaya dan saling membantu terhadap tujuan-tujuan publik atau organisasi yang diwakilinya.
b.      Fungsi Korektif
Berperan sebagai pemadam kebakaran,yakni apabila sebuah organisasi atau lembaga terjadi masalah-masalah atau krisis dengan publik,maka humas harus berperan dalam mengatasi terselesaikannya masalah tersebut.

B.     Peran serta Masyarakat
1.      Pengertian
Peran serta masyarakat adalah kontribusi, sumbangan, dan keikutsertaan masyarakat dalam menunjang upaya peningkatan mutu pendidikan. Pada umumnya peran serta masyarakat adalah peran serta pasif dalam menerima keputusan sekolah. Mereka berpikir dengan membayar sumbangan/dana secara rutin, selesailah kewajiban mereka.
2.      Koponen-komponen peranserta masyarakat
Yang termasuk komponen masyarakat ialah orang tua siswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan dunia industri, dan lembaga sosial budaya.
Peran serta mereka dalam pendidikan berkaitan dengan: (1) pengambilan keputusan, (2) pelaksanaan, dan (3) penilaian. Peran serta dalam mengambil keputusan misalnya ketika sekolah mengundang rapat bersama komite sekolah untuk membahas perkembangan sekolah, masyarakat yang dalam hal ini orang tua, anggota komite sekolah, atau wakil dari dunia bisnis dan industri secara bersama-sama memberikan sumbang saran dan berakhir dengan pengambilan keputusan.
3.      Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat
Dalam pelaksanaan MBS, banyak cara untuk memberdayakan masyarakat. Misalnya, dengan cara: (1) melibatkan orang tua dalam mengurus komite sekolah serta tokoh masyarakat untuk membahas perencanaan kegiatan program-program sekolah; (2) membangun prinsip saling menguntungkan antara sekolah dan masyarakat; (3) memanfaatkan tenaga-tenaga terdidik, terampil dan berkecakapan di lingkungan sekolah untuk membantu pengembangan dan pelaksanaan program sekolah; serta (4) menyertakan wakil instansi dan organisasi komite sekolah dalam kegiatan sekolah, seperti ekstrakurikuler atau acara tahunan sekolah.
Pemberdayaan komite sekolah ini, sebagaimana tujuan MBS, dimaksudkan untuk menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka.
Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah.
Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Sudah tentu dalam bekerja komite sekolah mengedepankan prinsip keterbukaan.
Keterbukaan ini dapat meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah.
4.      Peran Serta Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama
Sekolah, Komite sekolah dan Tokoh masyarakat dan agama dapat duduk bersama dalam satu meja untuk membahas pencapaian tujuan sekolah. Perlu dikembangkan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah bersama. Program kerja sekolah didiskusikan dengan tokoh masyarakat dan agama agar berorientasi pada peningkatan mutu, bukan untuk kepentingan birokrasi. Keterbukaan dalam laporan pertanggungjawaban untuk semua pihak yang berkepentingan.

C.    Peran serta orang tua
1.      Peran Serta Orang tua dalam Pembelajaran
Orang tua tidak saja membantu belajar anak di rumah, bisa juga dilakukan di sekolah. Bahkan kalau perlu orang tua yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus, misalnya ahli dalam musik atau seni rupa, dengan koordinasi yang baik dengan pihak sekolah, para orang tua ini bisa saja membantu mengadakan proses pembelajaran musik dan seni rupa pada ekstrakurikuler di sekolah.
2.      Paran serta Orang tua dalam Perencanaan Pengembanagan Sekolah
Orang tua siswa dapat berperan serta dalam perencanaan pengembangan sekolah. Misalnya , ada orang tua siswa yang kebetulan seorang dokter. Sebagai dokter tentunya sangat memahami betul apa itu arti hidup sehat, terutama bagi anak-anak di sekolah. Dia dapat memberikan masukan yang berharga dalam perencanaan pengembangan sekolah, terutama berkaitan dengan peningkatan mutu layanan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), penataan warung jajan sehat bagi anak- anak, serta pengaturan kamar mandi dan toilet sekolah yang sehat. Keterlibatan orang tua siswa tersebut dalam perencanaan pengembangan sekolah yang berkaitan dengan kesehatan, tentu sangat menguntungkan sekolah dan peserta didik.
Banyak cara yang dapat ditempuh. Orang tua dapat datang ke sekolah tanpa/ dengan undangan sekolah yang mengundang. Sekelompok orang tua mengadakan pertemuan di luar sekolah untuk bersama-sama membahas dan memberikan masukan untuk peningkatan mutu sekolah, hasilnya kemudian diserahkan kepada sekolah.  
3.      Peran Serta Orang Tua dalam Pengelolaan Kelas
Keterlibatan orang tua siswa dalam pengelolaan kelas memiliki arti yang sangat luas. Bukan berarti orang tua turut masuk ke kelas dan campur tangan mengurusi tempat duduk siswa, memindah siswa yang suka mengganggu temannya di kelas, dan sebagainya. Tetapi, pengaturan kelas dapat dilakukan berdasarkan masukan dengan dan/atau kompromi dengan para orang tua. Misalnya, dalam hal isi dan penataan pajangan kelas, serta pengaturan tempat duduk dan kenyamanan kelas. Untuk mengetahui kebutuhan kelas yang menunjang proses belajar di kelas sudah tentu Anda harus mengenali jenis peran serta orang tua dalam pengelolaan kelas, mencatat keadaan sekarang, dan kondisi yang dikehendaki, serta menemu-kenali hambatan-hambatan yang dihadapi.

D.    Peran serta Komite sekolah
1.      Pengertian, Komponen, Tugas, serta Fungsi Pokok Komite Sekolah
Istilah komite sekolah saat ini mirip dengan istilah POMG dan BP3 dulu. Komite sekolah merupakan suatu badan atau lembaga nonpolitis dan nonprofit. Komite ini dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh berbagai pihak yang berkepentingan dengan pendidikan pada tingkat sekolah. Mereka bertanggung jawab membantu sekolah dalam peningkatan kualias pendidikan di sekolah.
Menurut UU RI nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, komite sekolah/ madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/ wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.
Tugas utama komite sekolah ialah membantu penyelanggaraan pendidikan di sekolah dalam kapasitasnya sebagai pemberi pertimbangan, pendukung program, pengontrol, dan bahkan mediator. Untuk memajukan pendidikan di sekolah, komite sekolah membantu sekolah dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar, manajemen sekolah, kelembagaan sekolah, sarana dan prasarana sekolah, pembiayaan pendidikan, dan mengkoordinasikan peran serta seluruh lapisan masyarakat. Kedudukannya sebagai mitra sekolah.
2.      Pemberdayaan Komite Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Pada dasarnya pemberdayaan komite sekolah dalam konteks MBS adalah melalui koodinasi dan komunikasi. Koordinasi yang dilakukan kepala sekolah dengan para guru dan masyarakat dapat dilakukan secara vertikal, horisontal, fungsional, dan diagonal. Koordinasi dapat juga dilakukan secara internal dan eksternal. Koordinasi dilakukan secara terus menerus sebagai upaya konsolidasi untuk memperkuat kelembagaan dalam mencapai tujuan. Contoh, mengadakan pertemuan informal antara para pejabat, serta mengadakan rapat, baik rapat koordinasi antara kepala sekolah dengan guru, dengan komite sekolah, maupun dengan orang tua siswa, baik secara reguler maupun insidental.
Pemberdayaan dapat dilakukan dengan menjalin komunikasi yang baik. Komunikasi dalam konteks tatakrama profesional dapat meningkatkan hubungan baik antara pimpinan sekolah dengan para guru dan staf, dan pihak sekolah dengan komite sekolah. Dalam berkomunikasi, kepala sekolah perlu: (a) Bersikap terbuka, (b) Mendorong para guru untuk mau dan mampu memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan kependidikan, (c) Mendorong pengembangan potensi akademik dan profesional melalui pertemuan dengan komite sekolah maupun organisasi profesi, serta (d) Memotivasi tenaga pendidik dan kependidikan untuk terus mengembangkan diri.
 


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Peran serta masyarakat itu tidak hanya berupa dukungan dana atau sumbangan fisik saja, tetapi bisa lebih dari itu. Peran serta masyarakat sudah dapat dianggap baik jika dapat dapat terlibat dalam bidang pengelolaan sekolah, apalagi bila dapat masuk ke biang akademik. Dukungan masyarakat terhadap peningkatan mutu pendidikan sekolah melibatkan peran serta tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama, dunia usaha dan dunia industri, serta kelembagaan sosial budaya. Penyertaan mereka dalam pengelolaan sekolah hendaknya dilakukan secara integral, sinergis, dan efektif, dengan memperhatikan keterbukaan sekolah untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat dalam meningkatkan mutu sekolah.
Orang tua merupakan salah satu aspek yang penting dalam pelaksanaan MBS. Sebagai pihak yang sangat berkepentingan dengan kemajuan belajar anaknya, orang tua sudah selayaknya dilibatkan secara aktif oleh sekolah untuk membantu peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Peran serta mereka tidak hanya berupa dana, tetapi juga [emikiran atau tenaga dalam pembelajaran, perencanaan pengembangan sekolah, dan pengelolaan kelas. Komitmen dan kerjasama sangat diperlukan dalam upaya realisasi peran serta ini. Antara sekolah dan orang tua idealnya saling proaktif. Peran serta orang tua dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat disesuaikan dengan latar belakang sosial ekonomi dan kemampuan orang tua.
Sebagai mitra sekolah, komite sekolah memiliki peran sebagai (1) advisory agency (pemberi pertimbangan), (2) supporting agency (pendukung kegiatan layanan pendidikan), (3) controlling agency (pengontrol kegiatan layanan pendidikan), dan (4) mediator atau penghubung atau pengait tali komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah. Sejalan dengan upaya memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat, sekolah diharapkan dapat membina jalinan kerjasama dengan orang tua dan masyarakat. Sebagai bagian dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah, pemberdayaan komite/dewan sekolah ini merupakan wujud manajemen partisipatif yang melibatkan peran serta masyarakat, sehingga semua kebijakan dan keputusan yang diambil adalah kebijakan dan keputusan bersama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

B.     Saran-saran
1.      Bagi sekolah
Dari hasil tulisan ini, diarapkan sekloah dapat mengelola hubungan baik dengan masyarakat dan melibatkan peran serta masyarakat dalam pendidikan disekolah
2.       Bagi Pembaca
Besar harapan kami, agar pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun guna untuk penulisan makalah ataupun karya tulis dalam kesempatan yang lainnya agar menjadi lebih baik dan makalah ini dapat dipergunakan sebagai bahan referensi bagi seluruh mahasiswa bidang pendidikan
3.      Bagi Panulis
Bagi penulis sendiri makalah ini dapat menjadi lebih mengerti seperti apa hubungan sekolah dengan masyarakat itu serta menambah ilmu pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA


UU RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. 
Suryosubroto, B. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Seidel. (1947). Stores. Jilid 33. National Retail Merchants Association, Inc
Burlingame, Dwight. (1990). Library Development: A Future Imperative. Vol 12. Number 4. London: The Haworrt Press,Inc
Jefkins, Frank. (2002). Public Relations. Edisi 2. Blackie: Planned Press
Mulyasa. (2007). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Moore, Frazier.(2004). Humas, Membangun Citra dengan Komunikasi. Bandung: Rosda.
Sagala, S., (2008).  Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Nimas Multima

Pawlas.  (2005). The Administrator's Guide to School Community Relations. 2nd ed. United States: Eyed On Education, Inc.

Umaedi, Dkk. (2008). Managemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tim Dosen Administrasi pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. (2008). Manajemen Pendidikan. Bandung : Penertbit Alfabeta
Mulyono, MA .(2008).Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Jakarta: Ar-Ruzz Media
Soetjipto dan Raflis Kosasi. (2009). Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta

Selasa, 25 Juni 2013

Pembelajaran dengan pendekatan problem solving


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu kegiatan pendidikan adalah menyelenggarakan proses belajar mengajar. Winkel (dalam Darsono dkk, 2000) mengungkapkan pengertian belajar sebagai suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Belajar dapat membawa perubahan dan perubahan itu pada pokoknya adalah diperoleh kecakapan baru melalui suatu usaha. Para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran perlu adanya suasana yang terbuka, akrab dan saling menghargai. Sebaliknya perlu menghindari suasana belajar yang kaku, penuh dengan ketegangan dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif, tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kebosanan (Dasim Budimansyah,2002). Hal tersebut bisa tercapai apabila sang pendidik memakai jalan pembelajaran dengan pendekatan problem solving.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian pembelajaran dengan problem solving?
2.      Apa saja perangkat pembelajaran Problem solving?
3.      Bagaimanakah bentuk-bentuk pembelajaran problem solving?
4.      apa saja kelebihan dan kekurangan pembelajaran  problem solving?
5.      Bagaimanakah pendekatan pemecahan masalah?

C.     Tujuan pembahasan Masalah
1.      Dapat mengetahui pengertian pembelajaran dengan problem solving
2.      Untuk Mengenal perangkat pembelajaran Problem solving
3.      Untuk memahami bentuk-bentuk pembelajaran problem solving
4.      Dapat  Mengetahu kelebihan dan kekurangan pembelajaran problem solving
5.      Untuk mengetahui pendekatan pemecahan masalah.



BAB II
Pembahasan
2.1.Pengertian dasar problem solving
Agar kita sukses menerapkan pembelajaran dengan problem solving maka langkah pertama yang harus  lakukan ialah memahami makna problem solving  terselebih dahulu. Barangkali secara umum orang memahami masalah sebagai kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Namun dalam matematika, istilah problem memiliki makna yang lebih khusu. Yakni istilah “problem” terkait erat dengan suatu pendekatan pembelajaran yaitu problem solving ( pemecahan masalah) yang digunakan intuk pendekatan dalam proses pembelajaran . Dan menurut Hunsaker Pemecahan masalah ( problem solving ) didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidak sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang diinginkan.
Sementara menurut Mu’Qodin mengatakan bahwa problem solving adalah merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang dicapai dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.
Berdasarkan dari beberapa definisi problem solving yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa problem solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran. Terkait dengan pengertian problem solving tadi bila dikaitkan dengan pembelajaran maka mempunyai pengertian sebagai proses pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, dimana  problem yang harus diselesaikan tersebut bisa dibuat-buat sendiri oleh pendidik dan ada kalanya fakta nyata yang ada dilingkungan kemudian dipecahkan dalam pembelajaran dikelas, Dengan berbagai cara dan teknik.
2.2.Perangkat Pembelajaran Problem Solving
Untuk menerapkan pembelajaran problem solving diperlukan beberapa perangkat terutama
a.        Software,  yang mengaitkan metode, Setiap pembelajaan seorang guru tidak dilepaskan dari peranan metode, akan tetapi tak semua metode yang guru pakai dapat menghasilkan output yang baik, Dan guru mengajar dengan metode dapat menemukan dan  membimbing anak ke arah pemecahan masalah  tapi tak semua metode bisa digunakan sebagi proses problem solving paling tidak metode tersebut  mempunyai nilai-nilai Sebagai berikut:
1)       Keaktifan terhadap peserta didik
Karena keaktifan siswa dalam pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengexplorasi pengetahuannya untuk memecahkan masalah serta membangun konsep-konsep yang akan dipelajarinya. Keseluruhan pengalaman belajar ini akan memberikan ketrampilan kepada siswa bagaimana sesungguhnya belajar yang dapat menjadi bekal untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Dan memecahkan masalah dalam proses pembelajaran.
2)       Kreativitas
Dengan kekreatisan seorang siswa baik individual maupun kelompok dituntut untuk menghasilkan penemuan-penemuan sebagai manifestasi dari pemecahan masalah, orang-orang yang kreatif masih saja belum banyak jumlahnya Konon hal inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak banyak menghasilkan paten atau temuan. Mandulnya bangsa Indonesia dalam menghasilkan temuan-temuan baru tentu saja menjadi kendala untuk dapat bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain didunia. Oleh karenanya penting bagi siswa untuk semenjak dini menghasilkan kreasi-kreasi atau belajar mengkreasi sesuatu. Kelak ketika mereka dewasa kreativitas ini diharapkan dapat menjadi terobosan dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan diantaranya adalah menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri. Konon banyaknya sarjana yang menjadi antrean pencari kerja disebabkan karena semenjak kecil mereka tidak terbiasa menciptakan sesuatu. Kebiasaan belajar dengan menghapalkan dan meniru tidak banyak bermanfaat dalam kehidupan.
Berkreativitasnya  siswa dapat menghantarkan daya pikir kritis dalam memecahkan masalah dan tentunya setiap metode harus didukung oleh fasilitas tertentu yang dapat mengarah kepada tercapainya tujuan.
Diantara  yang paling bermasalah ialah Metode ceramah meruapakan metode klasik yang hanya menggunakan lisan dalam menyampaikan materi, yang dampaknya murid menjadi pasif, tidak gairah dan daya pikir siswa statis. Maka dari itu metode ceramah sangat tidak relevan untuk digunanakan dalam pembelajaran problem soving, memang setiap metode pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari metode ceramah akan tetapi metode  ceramah hanya sebagai fasilitas daya dukung aja dari pada metode yang diterapkan guru dalam pembelajaran.
b.      Hardware
Untuk perangkat yang kedua ialah hardware yang terkait  dengan teknik pembelajaran, sebelum kita memahami hardware pembelajaran kita harus paham dengan pengertian teknik pembelajaran, teknik pembelajaran ialah jalan, alat, atau media yang diguanakan oleh guru dalam rangka mendidik muridnya guna mencapai tujuan pembelajaran ( Garlach dan Ely, 1980 )
Aplikasi atau penerapan teknologi pendidikan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan dan pembelajaran mempersyaratkan minimal tersedianya hal-hal berikut: a) dukungan teknologi atau infrastruktur, b) penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan content, c) kesiapan Siswa pengguna atau user. Sementara itu pemecahan masalah belajar secara empirik dapat dilakukan dengan berbagai cara, strategi, dan prosedur (Purwanto, 2005:17­18).
Aplikasi atau penerapan teknologi pendidikan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan dan pembelajaran dengan cara: 1) memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang ekonomi, manajemen, psikologi, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem; 2) memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya; 3) menggunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar; 4) timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah (Miarso, 2007:78).

Penerapan Teknologi Pendidikan  Dapat diterapkan dalam Pembelajaran Computer Assisted Learning (CAL)
Teknik ini digunakan untuk kegiatan belajar yang berstruktur, dimana computer    Diprogramkan untuk permasalahan-permasalahan (sistem Pakar). Siswa diminta untuk  Meme cahkan masalah tersebut atau mencari jawaban dengan mempergunakan  komputer dan seketika itu juga jawaban siswa diproses secara elektronik. Dalam  beberapa detik siswa sudah mendapat jawaban atau umpan balik jawaban tersebut. CAL  memberikan siswa untuk maju sesuai dengan kecepatan masing-masing mereka.Metode ini dapat dipergunakan pada setiap tingkat pengetahuan dari yang sederhana sampai pada yang paling kom pleks.
2.3.Bentuk Problem Solving
Ada beberapa bentuk dalam problem solving menurut Chang, D’Zurilla dan Sanna (2004), yaitu; 
a)      Rational Problem Solving
Sebuah bentuk pembelajaran problem solving yang konstruktif yang didefinisikan seperti rasional, berunding dan aplikasi yang sistematik dalam kemampuan menyelesaikan masalah. Model ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu :
1.      Identifikasi Masalah
Problem solver mencoba mengelompokkan dan mengerti masalah yang dihadapi  dengan mengumpulkan banyak spesifikasi dan fakta konkrit tentang kemungkinan masalah, mengidentifikasi permintaan, rintangan dan tujuan yang realistik dalam menyelesaikan masalah.
2.      Mencari Solusi Alternatif
Fokus pada tujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencoba untuk mengidentifikasi banyak solusi yang memungkinkan termasuk yang konvensional.
3.      Mengambil Keputusan
Problem solving  mengantisipasi terhadap keputusannya dalam solusi yang berbeda, mempertimbangkan, membandingkan dan kemudian memilih yang terbaik atau solusi yang efektif yang paling berpotensial.
4.      Mengimplementasi Solusi dan Pembuktian                                    Seseorang harus berhati-hati dalam menerima dan mengevaluasi solusi yang menjadi pilihan setelah mencoba untuk melaksanakan solusi tersebut kedalam situasi masalah dalam kehidupan nyata

2.4.Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran  Problem Solving.
Salah satu tujuan pembelajaran ialah untuk menciptakan prodak siswa yang tidak hanya memiliki keahlian koqnitif  dan afektif saja melainkan seorang siswa juga dituntut untuk cakap dalam mengembangkan psikomotorik, tujuan tersebut tidak dari proses untuk memecahkan masalah, dan didalam memecahkan masalah tersebut haruslah menghadirkan metode. Dan metode yang tepat ialah metode problem solving, salah satu metode metode yang menekankan untuk berpikir krisis dan kreatif guna mencapai tujuan, tapi metode tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan.
a.    Kelebihan Pembelajaran Problem Solving
1.      Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2.      Berpikir dan bertindak kreatif.
3.      Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4.      Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5.      Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6.      Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7.      Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
b.    Kelemahan pembelajaran  problem solving
1.      Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan Pembelajaran  ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2.      Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain
3.      Pengembangan program membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama.
4.      Pengadaan dan pemeliharaan alat mahal .
Ada   5 langkah,   yakni :
1.      Problem  Identification
Ketika kita menemukan sebuah masalah. Baik itu masalah teknis atau kehidupan sehari-hari karena pada umunya semua masalah memiliki kronologis jalan keluar yang hamper sama. Sebagai contohnya karena saya akan menghadapi UTS tanggal 28 besok dan belum benar-benar siap, serta diperparah sekarang bulan puasa maka ini bisa dijadikan contoh masalah.
2.      Synthesis
Sebuah gagasan awal secara keseluruhan untuk memecahkan masalah. Langkah selanjutnya masalah di atas adalah saya harus berusaha lebih keras untuk mengejar ketertinggalan dan tidak menganut sistem belajar kebut semalam.
3.      Analysis
Kalau di buku Holtzapple Reece dijelaskan bahwa pada langkah ini kuncinya adalah mengubah masalah fisika menjadi model matematikanya. Karena saya sudah terlanjur memberi contoh masalah kehidupan nyata maka jika ditinjau dari langkah ini maka saya harus menentukan langkah riil step by step, misalnya belajar terorganisasi atau berurutan dan berkelanjutan.
4.      Application
Langkah application di sini kita melaksanakan semua gagasan dan langkah-langkah yang kitarencanakansebelumnya.
5.      Comprehension
Di langkah ini kita menggunakan teori yang sudah ada. Untuk kasus yang telah saya contohkan teori yang ada adalah mitos kalau belajar sebelum tidur itu baik dan jauh lebih baik belajar pada saat shubuh atau fajar. Di jelaskan dalam buku Misteri Shalat Shubuh bahwa banyak keajaiban atau mukjizat yang terjadi kala fajar.

 
BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
1.      problem solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran. Terkait dengan pengertian problem solving tadi bila dikaitkan dengan pembelajaran maka mempunyai pengertian sebagai proses pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, dimana  problem yang harus diselesaikan tersebut bisa dibuat-buat sendiri oleh pendidik dan ada kalanya fakta nyata yang ada dilingkungan kemudian dipecahkan dalam pembelajaran dikelas, Dengan berbagai cara dan teknik.
2.      Perangkat dalam pembelajaran problem solving ialah berupa software yang berupa metode tapi tak semua metode bisa dipakai dalam pembelajaran problem solving paling tidak metode tersebut mempunyai nilai-nilai keaktifan dan kretivitas bagi siswa. dan yang perangkat problem solving ialah hardware yang berupa tenik pembelajaran.
3.      Bentuk Problem Solving ialah Rational Problem Solving dengan cara Identifikasi Masalah,  Mencari Solusi Alternatif, Mengambil Keputusan, Mengimplementasi Solusi dan Pembuktian.
4.      Pembelajaran problem solving ada kelebihannya dan kekurangannya diantaranya.
Kelebihan problem solving
·         Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
·         Berpikir dan bertindak kreatif.
Kekurangannya
·         Pengembangan program membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama.
·         Pengadaan dan pemeliharaan alat mahal .
5.       Pendekatan Pemecahan masalah ada lima langkah yaitu, Problem Identification, Syinthesis, Analysis, Application, Comprehension


DAFTAR PUSTAKA

 Hamzah B. Uno. (2008). Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Efektif dan Efisien, Jakarta, Bumi Aksar,.
Harun Nasution.(2010). Teknologi pendidikan, , Jakarta, Bumi Aksara.
Miarso, Yusufhadi. (2007). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta, Pustekkom-Diknas,.Online http://anicahyadi.blogspot.com/2009_04_01_archive.html,  25  Nov 2010.
R. Ibrahim & Nana Syaodih S (1996). Perencanaan Pengajaran, Jakarta, Penerbit Rineka Cipta,.
Purwanto, (2005). Jejak Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia. Pustekkom Diknas, Jakarta.
Zainal Aqib, (2002). Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, Surabaya, Penerbit Insan Cendikia.

Problem solving Method



A.    Metode Pemecahan Masalah (Problem solving Method)

Metode pembelajaran problem solving adalah suatu penyajian materi pelajaran yang menghadapkan siswa pada persoalan yang harus dipecahkan atau diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.


B.     Manfaat dan Tujuan dari  Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)

Manfaat dari penggunaan metode problem solving pada proses belajar mengajar untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. metode problem solving memberikan beberapa manfaat antara lain :

1.      Mengembangkan sikap keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan, serta dalam mengambil kepuutusan secara objektif dan mandiri

2.      Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah
3.      Melalui inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi atau keadaan yang bener – bener dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam ragam altenatif
4.      Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif  mandiri, krisis,  analisis baik secara individual maupun kelompok
Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut.
a.       Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya.
b.      Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.
c.       Potensi intelektual siswa meningkat.
d.      Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan


C.     Langkah – Langkah Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)

Penyelesaian masalah menurut dapat dilakukan melalui enam tahap  yaitu :
1.      Merumuskan masalah
2.      Menelaah masalah
3.      Menghimpun dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis
4.      Pembuktian hipotesis
5.      Menentukan pilihan pemecahan masalah dan keputusan


D.    Kelebihan dan Kekurangan Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)
Pembelajaran problem solving ini memiliki keunggulan dan kelemahan. keunggulan model pembelajaran problem solving yaitu melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan, berpikir dan bertindak kreatif, memecahkan masalah yang di hadapi secara realistis, mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan, menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan, merangsang perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat, serta dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan khususnya dunia kerja.

Sementara kelemahan model pembelajaran problem solving itu sendiri seperti beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misalnya terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. Dalam pembelajaran problem solving ini memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
  
Sumber : Imas Riyani. (2003). model-pembelajaran-problem-solving. http://edukasi.kompasiana.com